Rabu, 10 Januari 2018

BAGAIMANA MEMILIH TK DAN SD YANG TEPAT UNTUK ANAK KITA


          Pada bulan-buan kemarin, kalau kita mau sedikit memperhatikan ada yang beda pada jalan-jalan di Jabodetabek (mungkin di daerah lain tidak kalah seru). Kita seperti melihat pameran spanduk yang sebagian besar tentang penerimaan murid baru tahun ajaran 2007-2008. Aneh memang karena tahun ajaran 2016-2017 baru saja meninggalkan semester I.  Ada berbagai macam jenis spanduk mulai yang murahan sampai yang eksklusif.  Ada yang ijin dan ada juga yang sa’enake dewe.  Mungkin kalau dilihat dari atas wajah jalan di Jabodetabek seperti pasar yang dagangannya adalah SEKOLAH. Sebagian orang tua akan kebingungan jika ingin menyekolahkan anaknya karena banyaknya penawaran. 
          Memilih sekolah yang tepat merupakan hal yang susah-susah gampang.  Jika salah dalam memilih mungkin masih ada waktu untuk merubah yang tentunya akan berdampak ke semuanya.  Anak memang mudah sekali rusak tapi juga mudah sekali diperbaiki untuk kesalahan yang tidak terulang.  Artinya jika masih sekali salah dalam memilih sekolah, orang tua dianjurkan tidak mengulangi lagi. Sebaiknya orang tua tidak salah dalam memilih sekolah. 
          Dalam memilih sekolah, orang tua merumuskan dulu sekolah seperti apa yang diharapkan. Tentunya pertimbangan anak jangan sampai dilupakan karena yang sekolah itu anak bukan orang tua. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebelum memilih sebuah sekolah.
          Kriteria pertama karena pendidikan merupakan sebuah PROSES dan memerlukan waktu yang panjang, maka yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah koneksitas-nya. yang  dimaksud koneksitas adalah hubungan guru ke anak apakah monoton atau hangat? Bentuk hubungannya apakah lebih banyak ceramah atau banyak melakukan kegiatan? Ini menjadi hal penting karena hampir 70% lebih hubungan anak-anak ke guru terjadi dan lebih 70 % dari hasil hubungan tersebut akan membekas ke diri anak-anak jika hangat atau tak ada arti sedikitpun jika hubungan tersebut monoton. Orang tua juga bisa merasakan apakah hubungan tersebut jujur atau dibuat-buat. Bentuk hubungannya menjadi penting khususnya untuk taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Pada tahap perkembangan usia TK sampai SD, otak lebih membutuhkan sesuatu yang kongkret. Ada pepatah dari China yang terkenal ”I hear, i am forget.  I see, i am remember. I do, i am understand. I teach, i will be a master.” Intinya faktor guru menjadi syarat mutlak dalam memilih sekolah. 
          Masih berhubungan dengan guru. Apakah sekolah mengadakan kegiatan rutin tentang pelatihan untuk guru-gurunya?  Sadar atau tidak, ilmu pendidikan lebih cepat perkembangannya dibanding dengan perkembangan manusia secara umum. Kita harus yakin bahwa yang diajarkan pada generasi 1-3 tahun kemarin sangat jauh berbeda dengan generasi sekarang. Begitu juga dengan tantangan yang dihadapi pasti jauh berbeda. Contohnya, jika 1-3 tahun kemarin tantangan orang tua televisi maka tahun sekarang tantangannya laptop (komputer) dan turunannya. Jika pelatihan atau pengembangan guru sedikit dan atau tidak ada, yang bisa dirasakan langsung oleh orang tua adalah berulangnya materi pembelajaran. Kegiatan jadi monoton, suasana kelas tidak hangat.  Kondisi sekolah seperti ini jelas tidak baik untuk proses pendidikan.
          Kriteria selanjutnya yang perlu dilihat adalah kesiapan sekolah dalam bentuk kegiatan tahunan, semesteran, pekanan sampai harian. Jika kegiatan tersebut siap dalam bentuk program tertulis, orang tua masih perlu melihat langsung kegiatan harian dalam bentuk sekuennya. Sekolah yang baik biasanya akan mengatur sekuen atau urutan kegiatan harian berdasarkan bagaimana cara kerja otak menerima suatu konsep atau ilmu. Seperti halnya kita akan melakukan sesuatu, kita akan melakukan conditioning/pemanasan dulu sebelum memulai suatu kegiatan.  Otak menjadi bagian penting dalam pembelajaran memerlukan juga conditioning. Otak merupakan bagian tubuh manusia yang pada tahap akhir perkembangan selnya tidak akan ada regenerasi. Jika ada sel yang rusak (biasanya karena benturan secara fisik maupun psikologis), maka sel otak akan berkurang. Sedikit kembali ke kriteria koneksitas, betapa pentingnya guru yang bisa meminimalisir benturan psikologis. Garis besar sekuen yang tepat dengan cara kerja otak yaitu adanya transisi kondisi dari rumah/perjalanan dengan kondisi sekolah. selanjutnya isi materi pembelajaran dengan koneksitas yang tepat dan adanya closing yang tepat. 

 
PERTAMA , kalau memungkinkan anak boleh mencoba (sit in) sekolah ± 3 hari.  Dalam 3 hari ini baik orang tua atau anak akan bisa merasakan seperti apa penanganan yang diberikan olah guru.  Orang tua sebaiknya mengantar anak ke sekolah dan jangan lupa melakukan melakukan observasi. Ada beberapa hal yang perlu dilihat.
·   Sekuennya "
·  Fasilitasnya " yang dimaksud fasilitas di sini adalah bagaimana atau perlengkapan apa yang digunakan guru dalam mendidik anak-anak.  Orang tua perlu melihat apakah guru atau lembaga sekolah tersebut kreatif.  Karena dengan kreatifitas yang dicontohkan guru atau sekolah yang kreatif insya Allah anak kita akan ketularan.  Pada dasarnya pendidikan itu adalah contoh nyata yang didapat anak dari lingkungannya

KEDUA,        jika suatu sekolah tidak ada kebijakan sit in maka yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah tetap melakukan observasi tersebut di atas. Tetapi yang di-observasi adalah murid-murid sekolah tersebut.


KETIGA,       Jika sekolah belum ada muridnya atau sekolah baru.  Orang tua perlu melihat komitmennya.  Kalo memang terasa cocok setelah mendengar penjelasan program sekolah, orang tua sebaiknya menanyakan apakah ada yang bisa saya tanda tangani tentang keberlangsungan konsep sekolah ini? Jika ada, orang tua boleh mencoba anaknya di sekolah tersebut tentu saja dengan keyakinan yang kuat.