Pada bulan-buan kemarin,
kalau kita mau sedikit memperhatikan ada yang beda pada jalan-jalan di
Jabodetabek (mungkin di daerah lain tidak kalah seru). Kita seperti melihat pameran
spanduk yang sebagian besar tentang penerimaan murid baru tahun ajaran
2007-2008. Aneh memang karena tahun ajaran 2016-2017 baru saja meninggalkan
semester I. Ada berbagai macam jenis spanduk mulai yang
murahan sampai yang eksklusif. Ada yang ijin dan ada
juga yang sa’enake dewe. Mungkin kalau
dilihat dari atas wajah jalan di Jabodetabek seperti pasar yang dagangannya adalah
SEKOLAH. Sebagian orang tua akan kebingungan jika ingin menyekolahkan anaknya
karena banyaknya penawaran.
Memilih sekolah yang tepat merupakan
hal yang susah-susah gampang. Jika salah
dalam memilih mungkin masih ada waktu untuk merubah yang tentunya akan
berdampak ke semuanya. Anak memang mudah
sekali rusak tapi juga mudah sekali diperbaiki untuk kesalahan yang tidak terulang.
Artinya jika masih sekali salah dalam
memilih sekolah, orang tua dianjurkan tidak mengulangi lagi. Sebaiknya orang
tua tidak salah dalam memilih sekolah.
Dalam memilih sekolah, orang tua
merumuskan dulu sekolah seperti apa yang diharapkan. Tentunya pertimbangan anak
jangan sampai dilupakan karena yang sekolah itu anak bukan orang tua. Ada beberapa kriteria
yang perlu diperhatikan sebelum memilih sebuah sekolah.
Kriteria pertama karena pendidikan
merupakan sebuah PROSES dan memerlukan waktu yang panjang, maka yang perlu
diperhatikan oleh orang tua adalah koneksitas-nya. yang dimaksud koneksitas adalah hubungan guru ke
anak apakah monoton atau hangat? Bentuk hubungannya apakah lebih banyak ceramah
atau banyak melakukan kegiatan? Ini menjadi hal penting karena hampir 70% lebih
hubungan anak-anak ke guru terjadi dan lebih 70 % dari hasil hubungan tersebut
akan membekas ke diri anak-anak jika hangat atau tak ada arti sedikitpun jika
hubungan tersebut monoton. Orang tua juga bisa merasakan apakah hubungan
tersebut jujur atau dibuat-buat. Bentuk hubungannya menjadi penting khususnya
untuk taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Pada tahap perkembangan
usia TK sampai SD, otak lebih membutuhkan sesuatu yang kongkret. Ada pepatah
dari China yang terkenal ”I hear, i am forget.
I see, i am remember. I do, i am understand. I teach, i will be a
master.” Intinya faktor guru menjadi syarat mutlak dalam memilih sekolah.
Masih
berhubungan dengan guru. Apakah sekolah mengadakan kegiatan rutin tentang
pelatihan untuk guru-gurunya? Sadar atau
tidak, ilmu pendidikan lebih cepat perkembangannya dibanding dengan
perkembangan manusia secara umum. Kita harus yakin bahwa yang diajarkan pada
generasi 1-3 tahun kemarin sangat jauh berbeda dengan generasi sekarang. Begitu
juga dengan tantangan yang dihadapi pasti jauh berbeda. Contohnya, jika 1-3
tahun kemarin tantangan orang tua televisi maka tahun sekarang tantangannya
laptop (komputer) dan turunannya. Jika pelatihan atau pengembangan guru sedikit
dan atau tidak ada, yang bisa dirasakan langsung oleh orang tua adalah berulangnya
materi pembelajaran. Kegiatan jadi monoton, suasana kelas tidak hangat. Kondisi sekolah seperti ini jelas tidak baik
untuk proses pendidikan.
Kriteria
selanjutnya yang perlu dilihat adalah kesiapan sekolah dalam bentuk kegiatan
tahunan, semesteran, pekanan sampai
harian. Jika kegiatan tersebut siap dalam bentuk program tertulis, orang tua masih
perlu melihat langsung kegiatan harian dalam bentuk sekuennya. Sekolah yang baik
biasanya akan mengatur sekuen atau urutan kegiatan harian berdasarkan bagaimana
cara kerja otak menerima suatu konsep atau ilmu. Seperti halnya kita akan
melakukan sesuatu, kita akan melakukan conditioning/pemanasan
dulu sebelum memulai suatu kegiatan.
Otak menjadi bagian penting dalam pembelajaran memerlukan juga conditioning. Otak merupakan bagian
tubuh manusia yang pada tahap akhir perkembangan selnya tidak akan ada
regenerasi. Jika ada sel yang rusak (biasanya karena benturan secara fisik
maupun psikologis), maka sel otak akan berkurang. Sedikit kembali ke kriteria
koneksitas, betapa pentingnya guru yang bisa meminimalisir benturan psikologis.
Garis besar sekuen yang tepat dengan cara kerja otak yaitu adanya transisi
kondisi dari rumah/perjalanan dengan kondisi sekolah. selanjutnya isi materi
pembelajaran dengan koneksitas yang tepat dan adanya closing yang tepat.
PERTAMA , kalau memungkinkan anak boleh mencoba (sit in) sekolah ± 3
hari. Dalam 3 hari ini baik orang tua
atau anak akan bisa merasakan seperti apa penanganan yang diberikan olah guru. Orang tua sebaiknya mengantar anak ke sekolah
dan jangan lupa melakukan melakukan observasi. Ada beberapa hal yang perlu dilihat.
· Sekuennya "
·
Fasilitasnya " yang dimaksud fasilitas di sini adalah bagaimana
atau perlengkapan apa yang digunakan guru dalam mendidik anak-anak. Orang tua perlu melihat apakah guru atau
lembaga sekolah tersebut kreatif. Karena
dengan kreatifitas yang dicontohkan guru atau sekolah yang kreatif insya Allah
anak kita akan ketularan. Pada dasarnya
pendidikan itu adalah contoh nyata yang didapat anak dari lingkungannya
KEDUA, jika
suatu sekolah tidak ada kebijakan sit in maka yang sebaiknya dilakukan orang
tua adalah tetap melakukan observasi tersebut di atas. Tetapi yang di-observasi
adalah murid-murid sekolah tersebut.
KETIGA, Jika sekolah belum ada muridnya atau
sekolah baru. Orang tua perlu melihat
komitmennya. Kalo memang terasa cocok
setelah mendengar penjelasan program sekolah, orang tua sebaiknya menanyakan
apakah ada yang bisa saya tanda tangani tentang keberlangsungan konsep sekolah
ini? Jika ada, orang tua boleh mencoba anaknya di sekolah tersebut tentu saja
dengan keyakinan yang kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar